Minggu, 08 Desember 2013

Madzhab dan Bermazhab dalam Islam

Peta Madzhab Islam Global
(kaskus.co.id)

Inilah Perbedaan Islam yang Bermazhab dan Tidak Bermazhab

Mungkin ada yg pernah mendengar sebuah ungkapan "mari kita tinggalkan perbedaan, kita tinggalkan madzhab yg membuat perbedaan itu dan kita kembali kepada Al Qur'an dan hadist" wow keren..

Sekilas ungkapan ini mempesonakan karena mengajak kembali kepada Al Qur'an dan Hadist dan mengajak persatuan ummat. tapi pada kenyataannya ungkapan ini lebih banyak merupakan tipuan dari pada kebenarannya...

Kenapa..?

Karena kita disuruh meninggalkan pemahaman para ulama' yang kapabel dan mengikuti pendapat orang yg baru belajar dari buku atau internet. kita di suruh meninggalkan pemahaman ahli hadist yg hafal ratusan ribu bahkan 1 juta hadist beserta sanadnya dan di suruh mengikuti tukang service jam yg tidak hafal 5 hadist beserta sanadnya..

Ini ibarat kita mau pergi ke jepang, di depan kita ada dua orang, si A mahir bahasa jepang bahkan pernah tinggal dan belajar di jepang selama bertahun-2. dan si B tidak bisa bahasa jepang (tahu hanya melalui terjemah dan kamus) tidak pernah pergi ke jepang (dia tahu tentang jepang cuma lewat internet dan buku). petunjuk siapakah yg anda pilih dari keduanya jika mereka memberitahukan tentang jepang yg kebetulan berbeda dalam isi petunjuknya...? mari cermat dalam berfikir..
Inilah Beda Islam yang Bermazhab dan Tidak Bermazhab. Yang tidak bermazhab itu mencoba membaca Al Qur’an dan Hadits dengan pemahaman sendiri. Karena mereka tidak bermazhab, sanad mereka ke Nabi terputus. Akhirnya meski mereka rajin membaca Al Qur’an dan Hadits, namun cuma di kerongkongan. Tidak paham dan tidak mengamalkannya.

Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:

Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Di akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akal. Mereka berbicara dengan pembicaraan yang seolah-olah berasal dari manusia yang terbaik. Mereka membaca Alquran, tetapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama, secepat anak panah meluncur dari busur. Apabila kalian bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka, karena membunuh mereka berpahala di sisi Allah pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.1771)

سيخرج في آخر الزمان قوم أحدث الأسنان سفهاء الأحلام


“Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang usia mereka masih muda, dan bodoh, mereka mengatakan sebaik‑baiknya perkataan manusia, membaca Al Qur’an tidak sampai kecuali pada kerongkongan mereka. Mereka keluar dari din (agama Islam) sebagaimana anak panah keluar dan busurnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
“Mereka baik dalam berkata tapi jelek dalam berbuat, mengajak untuk mengamalkan kitab Allah padahal mereka tidak menjalankannya sedikitpun.” (HR. Al-Hakim)

Mereka selalu mengajak kita: “Kembali kepada Al Qur’an dan Hadits… Kembali kepada Al Qur’an dan Hadits…” Tapi mereka sendiri tidak mengamalkannya. Berbagai ayat Al Qur’an dan Hadits mereka pakai, namun kesimpulan lain yang mereka dapat dan amalkan. Berbagai larangan Allah dalam Al Qur’an seperti Su’u Zhon (Buruk Sangka), Mengolok-olok sesama, Mengkafirkan sesama Muslim, dan membunuh sesama Muslim. Berbagai caci-maki terhadap sesama Muslim seperti Ahlul Bid’ah, Sesat, Kafir dan sebagainya terlontar dari mulut mereka.
Hilangnya ilmu bukan karena ilmu itu dicabut oleh Allah. Bukan karena Kitab Al Qur’an dan Hadits menghilang dari peredaran. Tapi hilang dengan wafatnya para Ulama yang menguasai ilmu tersebut.

Hadis riwayat Abdullah bin Amru bin Ash ra., ia berkata:
Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dengan cara mencabutnya begitu saja dari manusia, akan tetapi Allah akan mengambil ilmu dengan cara mencabut (nyawa) para ulama, sehingga ketika Allah tidak meninggalkan seorang ulama pun, manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh yang apabila ditanya mereka akan memberikan fatwa tanpa didasarkan ilmu lalu mereka pun sesat serta menyesatkan. (Shahih Muslim No.4828)




Sesungguhnya Allah tidak menahan ilmu dari manusia dengan cara merenggut tetapi dengan mewafatkan para ulama sehingga tidak lagi tersisa seorang alim. Dengan demikian orang-orang mengangkat pemimpin-pemimpin yang dungu lalu ditanya dan dia memberi fatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan. (Mutafaq’alaih)

Sehingga akhirnya orang-orang bodoh yang tidak faqih lah yang membaca kitab Al Qur’an dan Hadits dengan pemahaman yang keliru.

Rasulullah SAW bersabda,

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’in), kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’ut tabi’in).”

Dalam lafazh lain disebutkan bahwa,

“Sebaik-baik zaman adalah zamanku (zaman para sahabat), kemudian yang setelahnya (zaman tabi’in), kemudian yang setelahnya (zaman tabi’ut tabi’in).”

(HR. Bukhari no. 6429 dan Muslim no. 2533 hadits ini adalah Mutawatir)

Dari hadits di atas, jelas tersirat anjuran kita untuk berpegang pada para Imam Mazhab yang masih merupakan generasi terbaik dalam Islam. Saat itu Islam masih amat murni. Tidak seperti sekarang.
Dari artikel di bawah kita tahu bahwa Imam Malik adalah dari golongan Tabi’it Tabi’in yang menurut sabda Nabi adalah satu dari golongan yang terbaik. Guru-guru Imam Malik berasal dari Tabi’in (anak para sahabat Nabi) dan Tabi’it Tabi’in (cucu dari sahabat Nabi). Sementara Imam Bukhari mau pun ahli hadits lainnya seperti Muslim sudah bukan tergolong kelompok Tabi’it Tabi’in.
Bahkan para Ahli Hadits seperti Imam Bukhari dan Imam Muslim mengikuti Mazhab Syafi’ie. Jika Imam Hadits seperti Imam Bukhari dan Imam Muslim saja BERMAZHAB (SYAFI’IE), mengapa kita yang bukan Imam Hadits tidak mau bermazhab.......?
Lucukan...........?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar