Kamis, 28 Juni 2012

Perspektif Manusia Dalam Logika

Manusia, allah dan alam semesta

Perspektif Manusia Dalam Logika

Manusia dapat diartikan dalam berbagai perspektif karena begitu banyak dimensi yang ada dalam manusia. Ia bias ditinjau dari aspek biologis, rohani, kebudayaan, logika maupun campuran. Secara logika dapat diartikan manusia merupakan makhluk yang secara fundamental, mempunyai banyak kebutuhan dan dorongan. Berbagai kebutuhan tersebut dituntut oleh berbagai kodratnya. Tetapi hal yang sesungguhnya membuat manusia berbeda dari semua makhluk di dunia ini adalah inteleknya akal budinya. Realitas intelek dan akal budi merupakan hal yang sangat penting dan menentukan. Memang, pada momen-momen tertentu, manusia menunjukkan kemiripan dengan binatang dan makhluk-makhluk infrahuman lainnya, tetapi hal itu tidaklah sama. Manusia memang mempunyai aspek hewani, tetapi manusia adalah insan paling utama berkat inteleknya, rohaninya. Ada adagium, "al-insan hayawanun natiq" ; Manusia adalah hewan yang berfikir. Begitulah kiranya manusia digambarkan sebagai makhluk yang mempunyai sisi rohani dan jasmani dan yang paling penting adalah kemampuannya untuk berfikir melalui akalnya untuk dapat memanfaatkan apa yang Allah berikan kepadanya, melalui pemanfaatan alam semesta.

Allah dalam kacamata logika

Allah adalah satu-satunya Yang Maha Ada, Maha Mengetahui, Maha Kuasa. Dia meliputi segalanya, memenuhi setiap ruang, mahluk dan benda; dan sebagai sumber segala kehidupan, pengetahuan dan kekuatan. Allah adalah Pencipta yang unik, Pengatur dan Penguasa dari jagad raya. Dia mutlak hanya Tunggal. Zat, Pribadi dan Sifat Allah adalah mutlak di luar pengetahuan manusia, dan karena itu setiap upaya untuk mendefinisikan ZatNya bukan saja sia-sia tetapi bahkan berbahaya untuk kesejahteraan spiritual dan keyakinan kita, karena pastilah hal itu akan membawa kita kepada kesalahan.
Zat Tuhan adalah karena ZatNya melebihi semua atribut di mana hal itu hanya dapat didefinisikan. Allah memiliki banyak Nama yang dalam kenyataannya hanya sebagai kata sifat yang berasal dari ZatNya melalui berbagai manifestasi di jagad raya yang Dia sendiri telah membentuknya. Kita menyeru Allah dengan sebutan Yang Maha Kuasa, Yang Maha Abadi, Yang Ada Di manapun, Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Pengasih, dsb. karena kita memahami keabadian, kemaha-hadiran, pengetahuan universal, kemaha-asihan, sebagai hal yang memancar dari ZatNya dan milik Dia Sendiri secara mutlak. Dia Sendiri saya yang dengan tak terhingga Maha Mengetahui, Berkuasa, Maha Hidup, Maha Suci, Maha Indah, Maha Baik, Maha Mencintai, Maha Agung, Maha Mengerikan (azabNya), Maha Penuntut Balas, karena hanya dari Dia Sendiri saja memancar dan mengalir mutu dari pengetahuan, kekuasaan, kehidupan, kesucian, keindahan, dsb. Untuk lebih memperjelas lagi, atribut yang suci adalah pancaran (emanasi) dari Tuhan, dan karenanya suatu kegiatan.

Juga harus diakui bahwa atribut suci, sejauh itu merupakan pancaran, menerima sebagai kenyataan adanya waktu dan awal waktu atau permulaan; dengan sendirinya ketika Allah Befirman: "Jadilah, maka jadilah" - atau Dia telah mengucapkan KalimatNya dalam waktu dan awal penciptaan. Inilah yang oleh para sufi disebut "aql kull" atau intelegensi universal, sebagai pancaran dari "aql awwal", yaitu intelegensi awal. Kemudian "nafs kull" atau jiwa yang universal, itulah yang pertama mendengar dan mematuhi perintah suci ini, dipancarkan dari "jiwa awal" dan telah mengubah jagad raya ini.
Cara berpikir yang begini ini membawa kita untuk menyimpulkan, bahwa setiap tindakan Allah mempertunjukkan pancaran suci sebagai manifestasiNya dan atributNya yang khas, tetapi itu bukanlah ZatNya atau AdaNya. Tuhan adalah Sang Pencipta, karena Dia menciptakan pada permulaan waktu dan selalu menciptakan. Tuhan berfirman pada permulaan waktu sebagaimana Dia selalu berfirman menurut caraNya sendiri. Namun karena ciptaanNya tidak abadi atau bukan suatu pribadi yang suci, maka firmanNya tidak dapat dianggap sebagai abadi dan Pribadi yang suci. Orang Kristen telah bertindak lebih jauh, dan menjadikan Sang Pencipta sebagai Bapa yang suci dan KalimatNya sebagai Putera yang suci, dan juga karena Dia meniupkan RuhNya pada ciptaannya, maka dia juga disebut sebagai Ruh Suci (divine Spirit), dengan melupakan bahwa menurut logika Dia tidak bisa menjadi "ayah" sebelum penciptaan, begitupun "anak" sebelum Dia berfirman, dan tidak pula Ruh Suci (Holy Ghost) sebelum Dia meniupkan RuhNya. Saya dapat membayangkan atribut Tuhan melalui karyaNya dalam manifestasinya kemudian, tetapi tentang keabadiannya tidaklah ada gambaran apapun, tidak pula saya dapat membayangkan ada mahluk intelegensi yang sanggup untuk mengerti secara menyeluruh sifat atribut yang abadi dan hubungannya dengan Zat Tuhan. Pada kenyataannya Tuhan tidak menyatakan kepada kita sifat dari AdaNya dalam Kitab Suci manapun.

Alam Semesta dalam Konsepsi Logika

Meskipun konsepsi Logika mengenai alam semesta tidak sesaksama dan sespesifik konsepsi ilmu pengetahuan, namun konsepsi filosofis didasarkan pada sejumlah prinsip yang jelas dan tak dapat disangkal lagi oleh akal. Prinsip-prinsip ini logis, sifatnya umum dan komprehensif. Karena kuat dan konstan, maka prinsip-prinsip ini memiliki keuntungan. Konsepsi filosofis mengenai alam semesta bebas dari ketidakkonstanan dan keterbatasan seperti itu, dua hal yang terdapat dalam konsepsi ilmu pengetahuan. Konsepsi filosofis mengenai alam semesta menjawab semua masalah yang menjadi sandaran ideologi. Prinsip ini mengidentifikasi bentuk dan ciri utuh dari alam semesta.

Baik konsepsi ilmu pengetahuan maupun konsepsi filosofis merupakan mukadimah untuk aksi, namun dengan dua cara yang berbeda. Konsepsi ilmu pengetahuan merupakan mukadimah untuk aksi karena konsepsi ini membuat manusia mampu mengendalikan alam dan membawa perubahan pada alam. Manusia, melalui sarana ilmu pengetahuan, dapat memanfaatkan alam untuk kepentingannya. Konsepsi filosofis merupakan mukadimah untuk aksi, artinya adalah bahwa konsepsi ini menentukan jalan hidup yang dipilih manusia. Prinsip ini mempengaruhi reaksi manusia terhadap pengalamannya berhubungan dengan alam. Prinsip ini menentukan sikapnya, dan memberinya pandangan tertentu mengenai alam semesta. Prinsip ini memberikan ideal kepada manusia, atau mencabut ideal dan manusia. Prinsip ini memberikan makna kepada kehidupannya, atau menariknya ke arah hal-hal yang sepele dan tak masuk akal. Itulah sebabnya kami katakan bahwa ilmu pengetahuan tak dapat memberikan konsepsi tentang alam yang dapat menjadi dasar bagi ideologi, sementara filsafat dapat.


Dalam agama-agama tertentu seperti Islam, konsepsi religius tentang alam semesta mengambil warna filosofis atau argumentatif, dan merupakan bagian integral dari agama itu sendiri. Pertanyaan-pertanyaan yang diangkat oleh agama didasarkan pada pemikiran dan hujah. Dengan demikian, konsepsi Islam mengenai alam semesta bersifat rasional dan filosofis. Selain dua nilai konsepsi filosofis, yaitu abadi dan komprehensif, konsepsi religius tentang alam semesta, tak seperti konsepsi ilmiah dan filosofis murni, memiliki satu lagi nilai, yaitu menyucikan prinsip-prinsip konsepsi alam semesta.

Kalau diingat bahwa ideologi—selain membutuhkan keyakinan bahwa prinsip-prinsip yang dipandang suci oleh ideologi itu abadi dan tak dapat diganggu gugat—membutuhkan keyakinan dan ketaatan kepada mazhab pemikiran, maka jelaslah bahwa basisnya bisa cuma konsepsi alam semesta yang memiliki warna religius itu. Dari pembahasan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa konsepsi ten tang alam semesta dapat menjadi dasar dari ideologi kalau saja konsepsi itu memiliki keseimbangan, pemikiran luas yang filosofis dan kesucian prinsip-prinsip religius


Segala wujud di dunia ini harmonis, dan evolusinya menuju ke pusat yang sama. Segala yang diciptakan tidak ada yang sia-sia, dan bukan tanpa tujuan. Dunia ini dikelola dengan serangkaian sistem yang pasti yang dikenal sebagai "hukum (sunnah) Allah." Di antara makhluk yang ada, manusia memiliki martabat yang khusus, tugas khusus, dan misi khusus. Manusia bertanggung jawab untuk memajukan dan menyempurnakan dirinya, dan juga bertanggung jawab untuk memperbarui masyarakatnya. Dunia ini adalah sekolah. Allah memberikan balasan kepada siapa pun berdasarkan niat dan upaya konkretnya.

Konsepsi tauhid tentang dunia ini mendapat dukungan dari logika, ilmu pengetahuan dan argumen yang kuat. Setiap partikel di alam semesta ini merupakan tanda yang menunjukkan eksistensi Allah Maha Arif lagi Maha Mengetahui, dan setiap lembar daun pohon merupakan kitab yang berisi pengetahuan spiritual.

Konsepsi tauhid mengenai alam semesta memberikan arti, semangat dan tujuan kepada kehidupan. Konsepsi ini menempatkan manusia di jalan menuju kesempurnaan yang selalu ditujunya tanpa pernah berhenti pada tahap apa pun. Konsepsi tauhid ini memiliki daya tarik khusus. Konsepsi ini memberikan vitalitas dan kekuatan kepada manusia, menawarkan tujuan yang suci lagi tinggi, dan melahirkan orang-orang yang peduli. Konsepsi ini merupakan satu-satunya konsepsi tentang alam semesta yang membuat tanggung jawab manusia terhadap sesamanya menjadi memiliki makna. Juga merupakan satu-satunya konsepsi yang menyelamatkan manusia dari terjungkal ke jurang kebodohan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar